8 Jan 19:13
4 months ago
quote
♥ 13 notes
# book
If more people could admit they really don’t know, maybe there never would have been a Heartland War.
Unwind
7 Jan 22:01
4 months ago
text
♥ 10 notes
# book
# buku
Unwind

*masih speechless*

Ok, mari kita nyombong. Tanggal berapa sekarang? Tanggal 7. Dan gw dah nyelesein sekitar tiga buku tahun ini (hahaha, gini aja bangga -_-;). Ok, yang pertama gw baca dari tahun lalu sih, tapi gapapa, yang jelas gw dah selese baca tiga buku.

Dan salah satunya masih bikin gw speechless karena saking bagusnya. Karena modern banget. Karena GW BANGET. Karena ampun deh… karena gw ga mau sendirian suka sama buku ini. Mari kita kasih pembukanya.

The Second Civil War, also known as “The Heartland War,” was a long and bloody conflict fought over a single issue.

To end the war, a set of constitutional amendments known as “The Bill of Life” was passed.

It satisfied both the Pro-life and the Pro-choice armies.

The Bill of Life states that human life may not be touched from the moment of conception until a child reaches the age of thirteen.

However, between the ages of thirteen and eighteen, a parent may choose to retroactively “abort” a child… on the condition that the child’s life doesn’t “technically” end.

The process by which a child is both terminated and yet kept alive is called ”unwinding.”

Unwinding is now a common, and accepted practice in society.

Bisa kebaca kan dari mana ide cerita dengan tema dystopia in berasal? Ada kata PRO-LIFE and PRO-CHOICE. Abort. Yeps, dari pertama gw baca ini mungkin berhubungan dengan aborsi.

Dan bener, buku ini ada hubungannya dengan aborsi. Bukan, buku ini ga berisi teknik-teknik aborsi, dan sebenernya bukan menceritakan ‘never-ending-debate-between-pro-life-and-pro-choice’… wait… sebenernya emang, di buku ini dijelaskan, ga ada akhir dari debat pro-life dan pro-choice. Yang ada malah amarah yang semakin tinggi dari masing-masing kubu yang akhirnya memecahkan sebuah perang saudara yang lain. Dan saat perang itu berakhir (TANPA KEMENANGAN di pihak mana pun), akhirnya dibuatlah sebuah testament, THE BILL OF LIFE. Di mana orangtua boleh ‘menjual’ anak mereka dari usia 13 - 18 untuk di-unwind.

Apa itu unwind? Unwind adalah masa di mana seorang anak remaja dibawa ke pemerintah untuk diambil seluruh organ tubuhnya untuk didonorkan ke orang-orang yang membutuhkan. Ya yang pada akhirnya adalah kematian. Ini jelas mengingatkan gw sama Never Let Me Go. Bedanya kalau Never Let Me Go ini manusia-manusia yang menjadi donor aslinya adalah duplikat alias cloning dari sampah masyarakat. Sedangkan di Unwind ini, mereka manusia seutuhnya, yang kebetulan punya masalah sehingga orang tua mereka ga tahan dan akhirnya menjual anak-anak mereka untuk di-unwind. Dan Never Let Me Go lebih ke arah sebuah kisah cloning tersebut, dan bagaimana sebenernya mereka punya jiwa dan punya perasaan juga kayak manusia adanya, mereka menjalani hidup mereka tanpa perlawanan. Sedangkan Unwind, ga go with the flow lah, tentunya ada pemberontakan di mana-mana.

Ceritanya dari tiga sudut pandang major, Connor, Risa, dan Lev. Sisanya cuman point of view minor. Connor, dia anak yang rebel dan suka bertindak tanpa mikir, orangtuanya akhirnya ngelist dia jadi unwind. Risa, dia tinggal di semacam panti asuhan dan dia emang udah tanggungan negara dari awalnya, dan pengasuh panti asuhannya ngelist dia jadi unwind. Lev, dia sebenernya dari lahir udah di-brainwash kalau dia akan jadi unwind dengan doktrin-doktrin agama kalau menjadi unwind adalah hal yang positif, dan menyebut dirinya sendiri ‘persembahan’ alias tithe. Sampe akhirnya mereka bertemu, dan silakan baca sendiri.

Tapi gilaaa, kayaknya semua hal filosofis yang terbenam di dalam kepala gw semuanya tertuang dalam buku ini. Gw ngangguk-ngangguk pada banyak hal mengenai ‘keabsurd’an dan abu-abunya dunia ini seperti apa yang dijelaskan di cerita ini. Terus penjelasan tentang point of view, pilihan tiap orang, debat itu gimana, kesadaran, jiwa, dan lain-lain yang selama ini gw pelajari cuman di kepala gw. Yaps, walaupun ada beberapa yang ga ‘klek’ dengan apa yang gw anut, tapi tetep aja pada akhirnya buku ini ga mengarahkan kita hanya pada satu pemikiran yang saklek. Seenggaknya itu yang gw liat.

Ah pokoknya baca. Gw masih bersyukur karena beneran gw sebenernya random aja download e-booknya (ya kalee, ga mungkin gw langsung purchase dari Amazon). Ini novel dystopia terbaik yang gw baca setelah Battle Royale. Bener deh kecanduan baca buku dystopia lagi.