Sebenernya, ending HIMYM akan simple nih kayaknya.
you are such a disgusting person. I’m honestly offended by this oh my god.
you don’t have to religious or Muslim to be offended.
Gw prefer reblog yang ini. Ada juga yang ngereblog terus dikasih penjelasan soal Islam. Tapi gw reblog ini karena lebih universal.
Sebagai Muslim dan gw ngerasa offended itu udah jelas yah. Dan di sini yang gw garis bawahkan adalah, beberapa non-Muslim/non-religious/atheist tau cara respect other people. Kenapa ga semua orang bisa tutup mulut sih? :)
Sorry, tapi gw juga boleh berpendapat.
Orang-orang kayaknya sekarang nyinyir soal masalah pemblokiran situs porno di bulan Ramadhan. Alasannya, karena esensi shaum itu kan TAHAN GODAAN, bukan MELENYAPKAN GODAAN, dan kenapa harus diblokir bulan Ramadhan aja? Terus sama resto-resto yang dikasih penutup biar ga keliatan, itu juga ada aja yang mempermasaahkan.
Emang sekarang itu zamannya orang kebanyakan mikir, terlalu kritis.
Gw inget banget persoalan zakat. Semakin banyak zakat, semakin banyak Allah melipatgandakan rezeki kita. Dan Ustadz Yusuf Mansyur mengajarkan soal ‘perhitungan-zakat’, dan sebenernya gw yakin tujuan Ustadz Yusuf Mansyur itu adalah: Biar orang tambah termotivasi buat zakat. Udah itu aja. Soal besar kecilnya itu kan tergantung keimanan kita, terserah. Yang gw tau, manusia itu dirancang sebagai manusia yang pamrih. Makanya Allah menjanjikan sesuatu pada apa yang kita perbuat biar kita semakin termotivasi untuk melakukan sesuatu yang baik. Dan kalo kata gw ga ada yang salah dengan mengharapkan balas dari Allah. Ingat, balasan dari Allah. Gw ga ngomongin soal mau pamer ke sesama manusia.
Tapi yaaaa… masih ada yang kritis soal, “Kalo gitu kita perhitungan dong sama Allah? Ga ikhlas dong? Yada yada…” Terus mikir sana sini bercabang ke mana-mana. Ya kalo gitu kapan zakat-nya kalo kebanyakan mikir? Dan kalo pun zakat, pasti ada di bagian kecil otaknya yang mikir, “Ah, gw zakat ikhlas nih, ga perlu kayak orang-orang yang kepengennya zakat biar kaya aja.”
Dan masalah soal pemblokiran internet dkk, kenapa ga liat dari sisi positifnya aja?
Kalau di sini gimana? Mending jadi minoritas yah daripada ngikut mainstream. Milih yang mana, itu mah terserah, pilihan. Hanya saja, stereotype itu rata-rata GA PERNAH ENAK.
Tiba-tiba gw inget seseorang yang pernah berlaku luar biasa kekanak-kanakan dan sekarang tampak menjalani hidupnya dengan tenang.
Tapi kalo kata gw, ‘setampak tenang’ apapun kehidupannya, ada perasaan malu luar biasa kalau tiba-tiba dia keingetan sama peristiwa di mana dia menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang yang sangat childish.
Sama seperti perasaan marah yang selalu ada di dalam diri gw kalo-kalo teringat sama kejadian itu. Tapi gw bisa meredam kemarahan itu dengan berpikir, “Ya sudahlah. Yang jelas gw ga childish dan ga menjatuhkan harga diri gw.”
Ofensif. Yeah. Dan di sana ada orang ketiga yang ngerasa apa yang gw lakuin juga salah, egois. Tapi pada akhirnya semua orang akan menuju pada titik aman yang bernama ketidakpedulian.