Eh iya gw review langsung dua aja deh.
Mmm… kadang gw juga mikir sebenernya gw review buat apaan yah? Sampe akhirnya gw sadar kadang gw ga boleh terlalu kebanyakan mikir. Karena itu gw ga nulis-nulis ntar.
Langsung dua karena sebenernya inti dari ceritanya adalah sama. Rasisme terhadap kaum kulit hitam, dan bagaimana menjadi orang baik dengan ga rasis terhadap mereka. Ya kira-kira begitu.
Gw mulai dari The Help karena gw nonton ini duluan dan gw have-no-idea ceritanya. Kalau yang gw tangkep, setting waktunya pas jaman Kennedy, ga yakin juga sih. Ceritanya adalah seorang cewek bernama Skeeter (Emma Stone), dia baru dapet job di sebuah penerbitan. Dan dia berniat untuk bisa mendapatkan job yang lebih baik di tempat pertama kali dia melamar. Dan bla-bla-bla, dia memutuskan untuk membuat cerita para wanita kulit hitam yang bekerja sebagai pembantu dengan mengurus anak-anak dari kaum kulit putih. Wanita kulit hitam pertama yang dia wawancara itu Aibileen, yang kebetulan kerja di tempat salah seorang sahabatnya Skeeter. Pertanyaan pertama sebagai pembuka film ini adalah, “Gimana perasaan Anda sebagai wanita kulit hitam, harus mengurus anak-anak dari kaum kulit putih, sedangkan anak Anda sendiri diurus oleh orang laen?” Kebetulan Aibileen ini punya anak yang meninggal karena sesuatu (ini pemalesan banget deh gw buat cerna ceritanya), dan dari situ lah semuanya diceritakan.
Yaps, setelah itu Skeeter dapat koresponden wanita kulit hitam laen yang bekerja sebagai pembantu. Yang pertama selain Aibileen adalah Minny, yang kebetulan kerja juga di salah satu rumah sahabatnya Skeeter namanya… *cek IMDB* Hilly (Bryce Dallas Howard, kebetulan Emma Stone ma Bryce Dallas Howard pernah maen jadi Gwen Stacy di Spiderman =)) ), dan si Hilly ini digambarkan sebagai antagonisnya. Tau kan maksudnya antagonis di cerita yang bertemakan rasisme? Yeps, si Hilly ini akar bulus dari segala rasisme. Kira-kira begitu.
Hilly sendiri ngasih saran ke temennya untuk buat kamar mandi khusus untuk orang kulit hitam, dan suka fitnah sana fitnah sini… pokoknya karakter pikasebeuleun-lah. Dan diceritanya dia mecat Minny dengan alasan karena Minny pake kamar mandi utama, soalnya Minny udah kebelet dan kagak bisa pergi ke kamar mandi khusus buat dia karena hujan badai. Yaps, sejak saat itu Minny dipecat, dan Minny punya reputasi buruk dan ga bisa kerja di tempat laen. Kecuali di rumah Celia Foote, yang kebetulan musuh bebuyutannya Hilly.
Yang gw suka dari film ini, buset deh bewarna banget. Cheer-up sana sini dengan pakaian jadul, rambut disasak a la film Hairspray, dan baju-baju polkadot warna warni. Kadang kalau mau sedih ga dapet karena warnanya terlalu cheer-up, tapi endingnya sedih sih. Karakter yang diperanin Emma Stone ga terlalu kuat, gw malah suka sama Hilly yang antagonis-nya dapet banget, dan karakter Celia-nya juga bagus. Tentu sajaaa, karakter para wanita kulit hitamnya itu jenius. Viola Davis, gw inget pernah nonton dia di film Doubt, itu keren! Dia di Doubt bener-bener nangis sampe ingusnya ke mana-mana (ini doang keknya yang gw perhatiin, ahahaha). Di The Help juga dia lah yang membawa suasana sedihnya. Ya pokoknya bagus deh, silakan nonton lah yah!
Ok lanjut ke To Kill a Mockingbird.
Tentu saja, gw tau film ini dari bukunya. Kalau gw kasih nilai untuk bukunya, bagus tapi bertele-tele, hahaha. Tapi kalau di film-nya, langsung ke inti ceritanya sendiri.
Cerita diambil dari sudut pandang Scout, anak berumur enam tahun yang punya seorang kakak bernama Jem, dan ayahnya seorang pengacara. Ibunya udah meninggal sejak Scout kecil. Suatu hari ayahnya dikasih kerjaan untuk membela seorang kulit hitam di pengadilan. Dan hidup Scout keluarga jadi ketar-ketir karena hal itu.
Scout tinggal di dekat rumah keluarga Radley, yang konon katanya anak dari keluarga Radley agak-agak gila dan dipanggil Boo Radley. Di cerita awal-awal Scout dan Jem, juga temennya yang laen gw lupa namanya… sering adu keberanian untuk masuk ke rumah keluarga Radley. Tentu saja sering ada kejadian-kejadian aneh tiap kali mereka iseng-iseng ke rumah keluarga Radley, kayak tiba-tiba babehnya Boo itu ngambek karena lahannya diganggu orang, jadi dia bawa-bawa senapan untuk nembak siapa pun yang masuk ke lahan rumahnya. Gitu-gitu.
Tapi dari semuanya, yang paling sedih dan bikin gw nangis kek gw nontonin Snape, adalah saat pengadilannya. Itu… SEDIIIIIIIIIIHHHHHHHHHHHHHHH BANGET. Gw bener-bener kerasa dalam alur pengadilannya, dan gw nyebut berkali-kali karena gw masih ga terima kenapa beberapa orang kok bisa-bisanya diperlakukan dengan rendah? Toh mereka kan manusia juga! Dan gw nyebut betapa ga ada adil-adilnya sama sekali pengadilan dunia, hanya karena beda warna doang. Dan pikiran gw lari ke pengadilan-pengadilan ngetop di TIVI-TIVI dan gw jadi muak sendiri ma nih hidup (btsaah). Ya pokoknya gw sampe akhir nangis terus, hahaha.
Dan tentu, ada scene yang selalu terbayang-bayang dan dibuat dengan sempurna dan ga akan pernah terlupakan. Scene saat akhirnya Scout ketemu dengan Boo Radley, karena Boo udah menyelamatkan Jem dari kematian. Scout bahkan ga pernah ketemu Boo, tapi dia tau kalau itu Boo, kamera di-zoom ke wajah Scout… dan dengan pelan Scout nyapa, “Hey Boo!” Itu aslinya merinding mpe tulang-tulang =)) Dan gw nangis lagi #sentimentalBanget
Intinya filmnya sama bukunya punya kelebihannya masing-masing. Dan pesan yang disampaikan dari buku dan film To Kill a Mockingbird banyak banget. Silakan nonton dan baca sendiri.
